Kisah Inspiratif : Kisah Sebuah Terong - Menurut Islam

Kisah Inspiratif : Kisah Sebuah Terong - Menurut Islam

04:23 0

Kisah Inspiratif : Kisah Sebuah Terong



Ada seorang anak muda di Damaskus ibukota Syria (Suriah) pada zama Tabi’in dulu. Dia pernah datang ke sebuah masjid, namanya At-Taubah. Ada seorang tabi’in masyhur yang tinggal di situ jadi imam dan juga jadi alim mengajar di masjid tersebut. Anak muda ini lalu datang dan berkata “wahai imam, saya datang dari luar Damaskus, miskin dan tidak punya apa-apa, tapi saya ingin belajar agama. Bolehkah saya numpang dimasjid tinggal bersama anda? Saya bantu-bantu lalu saya hidup bersama anda.” Maksudnya makan dan minum bersama sang Imam. “Silahkan,tidak masalah. Tapi harus bersabar, apa yang saya makan kau makan, apa yang saya minum kau minum.” Kata syekh atau imam tersebut.  “Baiklah” kata pemuda tersebut.


Setelah 3 bulan anak muda tersebut tinggal dengan syekh yang masyhur itu si pemuda berkata, “Ternyata syekh saya ini sangat zuhud luar biasa, ada makanan, makan, tidak ada makanan, puasa. Dan hari ini sudah 3 hari kami berpuasa. Sahur dengan sebutir kurma dan segelas air, berbuka juga seperti itu. Tapi ini sudah hari ketiga, syekh saya masih kuat, saya sudah tidak kuat. Saking tidak kuatnya saya bungkukkan punggung saya agar menekan perut saya, agar tidak terasa lapar.”


Dalam keadaan pikiran pemuda itu berkecambuk, setan datang dan menggoda dan berkata”Hei pemuda, sudah halal untukmu mencuri makanan, kalau kau tidak mencuri makanan mau makan dari mana? Minta sama gurumu, dia tidak punya. Minta pada orang lain, gurumu melarang minta kepada orang lain. Sekarang pergi dan curilah makanan walaupun cuma sepotong roti carilah dan makan. Yang penting kamu tidak kelaparan dan mati.”


Akhirnya si pemuda memutuskan untuk mencuri makanan di rumah sebelah masjid. Dirumah pertama, sipemuda naik ingin mencuri makanan, namun dia melihat tiga orang wanita yang tidak menutup auratnya, sedang menenun kulit domba, dialihkanlah pandangan si pemuda tersebut. Karena dia tahu yang bukan mahramnya haram untuk dilihatnya. Dan juga itu bukan tujuannya, dia mau mencari makanan.


Tibalah si pemuda di rumah kedua. Di rumah kedua dia melihat tidak ada orang, tapi ada bau masakan. Dia masuk kerumah tersebut dan dia melihat panci, masak pakai kayu bakar. Ketika dibuka isinya air sedang merebus dua buah terong yang sudah matang. Karena sudah laparnya si permuda tersebut mengambil 1 buah terong dan menggitnya. Ketika dia sedang mengunyah, dan ingin segera menelannya karena kelaparan, tiba tiba muncul ketaqwaannyakepada Allah. Lalu dia berkata, “ SubhanaAllah, setan telah berhasil membuat saya melakukan 3 dosa sekaligus.” Yang pertama masuk rumah tanpa izin. Yang kedua mencuri makanan. Dan yang ketiga memakan makanan yang haram”. Lalu dia melanjutkan, “Tidak mungkin Allah membuat saya mati kelaparan karena meninggalkan yang haram, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikannya yang lebih baik.” Lalu pemuda itu melemparkan makanan tersebut ke lantai, dan kembali ke masjid.


Waktu itu masih berlangsung pengajian, tapi si pemuda tidak bisa menangkap apapun karena laparnya. Setelah selesai pengajian, datanglah seorang wanita bercadar mendatangi guru pemuda tersebut dan berbincang, sambil guru pemuda tersebut menundukkan pandangannya. Setelah beberapa saat, sang syekh tadi yang berbincang dengan seorang wanita bercadar memanggil si pemuda tadi. Datanglah pemuda tadi mendekati gurunya. Sang guru bertanya, “Apa kau sudah menikah?” si pemuda menjawab “belum”. Lalu sang guru pun bertanya “Apa kau mau menikah?” si pemuda diam saja dan tidak menjawab. Sang guru bertanya untuk yang kedua kalinya “Apa kau mau menikah?” si pemuda diam saja dan masih tidak menjawab. Sang guru bertanya lagi untuk ketiga kalinya, “Apa kau mau menikah?” si pemuda masih diam saja dan berkata “Wahai syekh, wahai guru saya, setelah saya bertemu dengan anda, saya serahkan hidup saya untuk Allah, dan hidup saya tergantung pada anda. Apa yang anda makan , saya makan. Apa yang anda minum, saya minum. Dan sekarang sudah hari ketiga kita tidak punya makanan. Kalau saya menikah bagaimana saya akan memberi makan kepada istri saya?” Lalu kata syekh “Ini perempuan sebelah saya, baru selesai masa iddahnya, suaminya meninggal, dan dia ditinggali dengan cukup harta. Dia masih muda dan dia takut fitnah. Dia ingin menikah dan bertanya pada saya apakah ada yang cocok.” Lalu syekh bertanya pada pemuda,”Kamu mau?” Si pemuda menjawab “Iya” Lalu sang syekh bertanya pada si perempuan tadi, “Kamu mau?” Si perempuan menjawab “Iya”.


Lalu diambillah sebuah kend, dan diberikan untuk dijadikan mahar. Dipanggil wali perempuan, dipanggil dua orang saksi, dan terjadilah akad nikah. Lalu kata syekh “Pulanglah kerumah istrimu, nanti kalau mau ibadah bisa datang lagi ke masjid, sekarang kamu tidak usa menumpang lagi di masjid”


Lalu pulanglah si pemuda ke rumah istrinya bersama istrinya. Keluar dari masjid melewati rumah pertama yang tadi dia memanjat ingin mencuri, lalu terlewati dan tibalah di rumah kedua yang tadi si pemuda masuk untuk mencuri. Tiba-tiba sang istri berhenti dan berkata “Masuklah suamiku ini adalah rumah kita” Si pemuda masuk dan melihat sekeliling, dia berfikir “ini memang rumah yang saya masuki tadi”. Sang istri bertanya “Tadi saya mendengar anda belum makan 3 hari. Mau makan?” Si pemuda menjawab “Iya”


Sang istri kedapur dan didapati panci sudah terbuka dan terong sudah digigit jatuh di lantai. Dengan spontan sang istri bilang “Siapa yang memakan terongku?” Lalu si pemuda berkata “kesinilah istriku” Si pemuda menjelaskan kronologis kejadian. “Ketika saya mengunyahnya, datanglah ketaqwaan saya, saya takut kepada Allah, dan seya melempar makanan tersebut ke lantai.” Lalu sang istri berkata, “Wahai suamiku, engkau meinggalkan segumpal makanan yang haramuntuk Allah, dan Allah mengganti makanan itu, pancinya, rumahnya, dan pemilik rumahnya menjadi halal untukmu.”



Itu tadi adalah sebuah kisah berjudul terong. SubhanaAllah ketika kita bertaqwa kepada Allah ta’ala maka Allah akan memberikan jalan keluar kepada kita. Sesuai dengan perkataan Allah subhanallahu wa ta’ala pada surat Ath-Thalaq,



“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)


Dalam ayat diatas disebutkan bahwa dengan bertaqwa kepada Allah maka akan di berikan jalan keluar bagi setiap masalah dan diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka. Janji Allah itu pasti. Percayalah dan tunggulah. Wallahua’ala.


Referensi Video Dari Ustadz Khalid Basalamah


https://www.youtube.com/watch?v=gfEvjzgyrGw

 

-


Artikel : MenurutIslam.com


Referensi :


https://rumaysho.com/1010-orang-bertakwa-tidak-pernah-merasa-miskin.html


 
Tag :

Sumber : http://menurutislam.com/kisah-inspiratif-kisah-sebuah-terong/
Thanks to : Menurut Islam
Rezeki Itu Tergantung Dari Taqwa Atau Kerja Keras? - Menurut Islam

Rezeki Itu Tergantung Dari Taqwa Atau Kerja Keras? - Menurut Islam

01:55 0

Persoalan :

Rezeki itu dari kerja keras kita atau ketaqwaan kita kepada Allah subhanallahu wataa’ala?

Jawaban :

Masalah nafkah bukan soal banting – membanting tulang. Masalah nafkah ataupun rezeki itu dari taqwa. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ath-Thalaq ayat 2 - 3,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Talaq[65]: 2-3)

 

Ayat diatas menjelaskan bahwa orang yang benar benar bertaqwa, menyerahkan diri kepada Allah subhanallahu wa ta’ala maka Allah menjamin rezeki orang tersebut tanpa orang tersebut duga atau sangka dan juga Allah ta’ala akan memberikan jalan keluar bagi setiap masalah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah ta’ala akan memberikan hadiah berupa jalan keluar bagi kaum muslimin yang benar benar bertaqwa.

 

Dalam riwayat lain, dari Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, seperti Allah memberikan rezeki kepada seekor burung. Ia pergi (dari sarangnya) di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong (lapar), dan kembali (ke sarangnya) di sore hari dalam keadaan perut yang penuh (kenyang)”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Al-Hakim. Dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih”.

Perhatikan hadist diatas, burung ia pergi pagi hari dalam keadaan perut lapar, dan kembali ke sarangnya di sore hari dalam keadaan perut kenyang. Perhatikan, Rasulullah mengatakan pada sore hari bukan tengah malam. Ada burung pulang jam 12 malam? Tidak ada. Burung pulang sore haridengan perut kenyang, dan juga membawa makan untuk anak-anaknya. Rezeki bukanlah masalaha kuantitas seberapa banyak kita bekerja, namun kualitas iman dan taqwa kita dan ikhtiar yang maksimal. Ikhtiar yang maksimal bukan berarti harus bekerja sampai jam larut malam, lalu liburan kita pakai untuk cari sampingan agar dapat tambahan sampai sampai kita lupa mengaji, lupa ibadah,ini tidak berkah.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

 

Dalam hadist diatas juga menunjukkan bahwa istighfar juga akan memberikan rezekidari arah yang tidak disangka-sangka oleh umatnya. Jadi dengan istighfar dan ketaqwaan InsyaAllah Allah ta’ala akan mencukupkan rezeki makhluk-Nya di dunia ini. Jangan sibuk memperbanyak kerja, perbanyaklah ibadah dan dekatkan dirimu dengan sang Pencipta. Bukan berarti usaha tidak perlu, bukan begitu, usaha perlu, tapi secukupnya saja, jangan sampai melupakan Allah subhanallahu wata’ala. Semoga membantu dan mohon maaf bila ada kesalahan. Allahu’alam.
Referensi Video dari Ustadz Muhammadz Nuzul Dzikry

https://youtu.be/DehJ20vIGFQ

 

-

Artikel : Menurutislam.com

Referensi :

https://rumaysho.com/1010-orang-bertakwa-tidak-pernah-merasa-miskin.html

http://pengusahamuslim.com/3-sebabsebab-turunnya-rizki.html

https://muslim.or.id/7702-membuka-pintu-rizki-dengan-istighfar.html

https://www.islampos.com/burung-rezeki-dan-tawakal-pada-allah-102453/

 
Tag : halal, kerja keras, Rezeki, taqwa, uang

Sumber : http://menurutislam.com/rezeki-itu-tergantung-dari-taqwa-atau-kerja-keras/
Thanks to : Menurut Islam

Bolehkah berpuasa Syawal tanpa niat di malam hari? - Menurut Islam

Bolehkah berpuasa Syawal tanpa niat di malam hari? - Menurut Islam

04:36 0

Persoalan :


Bolehkah berpuasa Syawal tanpa niat di malam hari dan juga tanpa sahur?



Jawaban :


InsyaAllah diperbolehkan merujuk pada hadist riwayat Imam Muslim,


عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ


Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya. (HR. Muslim no. 1154).


Imam Nawawi membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bolehnya berniat di siang hari sebelum zawal untuk puasa sunnah. Boleh pula membatalkan puasa sunnah tanpa ada uzur, namun yang lebih baik adalah menyempurnakannya.”


Imam Nawawi juga berkata, “Menurut jumhur (mayoritas) ulama, puasa sunnah boleh berniat di siang hari sebelum waktu zawal (setelah matahari tergelincir ke barat/masuk waktu zuhur).” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 32-33).


Melaksanakan puasa tanpa makan sahur pun tetap membuat puasa tersebut sah, InsyaAllah. Syaikh ‘Abdul’ Aziz berpendapat mengenai orang yang berpuasa tanpa makan sahur seblumnya, “Puasanya tetap sah karena sahur bukanlah syarat sahnya puasa. Makan sahur hanyalah mustahab (dianjurkan atau sunnah).” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15: 321).


Namun berbeda untuk puasa wajib contohnya puasa qadha’ dan puasa Ramadhan, maka puasa wajib diharuskan di niatkan pada malam hari sebelum Shubuh. Dari Hafshoh Ummul Mukminin bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,


مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ


“Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Abu Daud no. 2454, Tirmidzi no. 730, An Nasai no. 2333, dan Ibnu Majah no. 1700)


Allahu’alam, mohon maaf bila ada kesalahan atau kekuarangan dalam artikel karena manusia adalah tempatnya salah.


-


Artikel : MenurutIslam.com


Referensi :


Rumaysho

 
Tag : niat, niat puasa syawal, puasa syawal, puasa syawal tanpa niat, puasa syawal tanpa sahur

Sumber : http://menurutislam.com/bolehkah-berpuasa-syawal-tanpa-niat-di-malam-hari/
Thanks to : Menurut Islam
Tata Cara Melaksanakan Puasa Syawal - Menurut Islam

Tata Cara Melaksanakan Puasa Syawal - Menurut Islam

17:30 0

Setelah berpuasa penuh 1 bulan pada bulan penuh barokah bulan Ramadha dan juga setelah mengejar mencari malam Lailatul Qadar sekarang saatnya membahas amalan pada bulan Syawal salah satunya Puasa Syawal. Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilakukan dibulan Syawal. Seperti yang sudah kita ketahui besarnya pahala puasa Syawal seperti pahala puasa setahun penuh. Tapi, sudah benarkah cara kita puasa Syawal. Berikut cara melakukan puasa Syawal.

 

Keutamaan Puasa Syawal


Seperti yang sudah kita ketahui bahwasannya puasa Syawal memiliki keutamaan, teruntuk yang berpuasa Ramadhan dengan sempurna lalu diikuti puasa 6 hari di bulan Syawal, maka akan mendapat pahala puasa setahun penuh. Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

 

Itu tadi adalah dalil dari mayoritas ulama yang men-sunnahkan puasa Syawal. Adapun ulama yang memakruhkannya yaitu Imam Malik, sedangkan madzhab Abu hanifah, Syafi’I dan Imam Ahmad menunjuk sebagai sunnah.

 

Pahala Berpuasa Setahun Penuh


Bagaimana bisa dengan tambahan puasa 6 hari selepas Ramadhan bisa mendapat pahala puasa setahun penuh? Mari kita lihat hadist Tsauban berikut ini,

 

Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.”  (HR. Ibnu Majah no. 1715. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

Seperti yang dipaparkan diatas, bahwa setiap 1 kebaikan akan diganjar minimal dengan 10 kebaikan yang semisal. Hal ini menunjukkan bahwa puasa 1 bulan di Ramadhan akan dibalas 10 bulan pahala puasa. Sedangkan puasa 6 hari di bulan Syawal akan diganjar 10x lipatnya yaitu 60 hari yangartinya 2 bulan pahala puasa. Jika dijumlahkan maka akan mendapatkan hasil puasa 10 bulan + 2 bulan sama dengan 12 bulan. Maka dari itu disebut mendapatkan pahala setahun penuh.

 

Tata cara puasa Syawal



  1. Puasa Syawal dilakukan selama 6 hari




 

Sebagaimana disebutkan dalam hadist bahwasannya puasa sunnah Syawal dilakukan enam hari. Lafal hadist diatas adalah : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).

 

  1. Lebih utama dilakukan secara beruntun tapi juga tidak mengapa jika tidak beruntun atau berurutan.




 

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.”

 

  1. Usahakan tunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu




 

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

 

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).

 

  1. Diperbolehkan untuk melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at dan hari Sabtu.




 

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).

 

Semoga Allah Subhanallahu wa ta’ala memudahkan kita dalam melaksanakan puasa Syawal tahun ini dan semoga kita masih bisa berpuasa Syawal tahun depan.

-

Artikel Menurutislam.com

Referensi :

muslim.or.id

 
Tag : bagaimana cara puasa syawal, cara puasa syawal, puasa syawal, puasa syawal berapa hari, tanpa niat puasa syawal

Sumber : http://menurutislam.com/tata-cara-melaksanakan-puasa-syawal/
Thanks to : Menurut Islam